Sakit Kepala

Migraine



Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Penderita-Penderita Migraine ?

Individu-individu dengan sakit-sakit kepala migraine yang ringan dan seringkali yang tidak menyebabkan ketidak mampuan mungkin memerlukan hanya analgesic-analgesic OTC (bebas resep). Individu-individu yang mengalami beberapa sakit-sakit kepala migraine yang sedang atau parah per bulan atau yang sakit-sakit kepalanya tidak merespon secara siap pada obat-obat harus menghindari pencetus-pencetus dan mempertimbangkan modifikasi-modifikasi dari gaya-gaya hidup mereka. Modifikasi-modifikasi gaya hidup untuk penderita-penderita migraine termasuk:

  • Pergi tidur dan bangun pada saat yang sama setiap hari.
  • Latihan secara teratur (setiap hari jika memungkinkan). Buat komitmen (janji) untuk latihan bahkan ketika berwisata atau selama periode-periode sibuk ditempat kerja. Latihan dapat memperbaiki kwalitas tidur dan mengurangi frekwensi dan keparahan dari sakit-sakit kepala migraine. Tingkatkan tingkat latihan anda secara berangsur-angsur. Pengerahan tenaga yang berlebihan, terutama untuk seseorang yang diluar kemampuannya, dapat menjurus pada sakit-sakit kepala migraine.
  • Jangan lewatkan makan-makan, dan hindari berpuasa yang berkepanjangan.
  • Batasi stres melalui latihan yang teratur dan teknik-teknik relaksasi.
  • Batasi konsumsi caffeine ke kurang dari dua minuman-minuman yang mengandung caffeine sehari.
  • Hindari cahaya-cahaya yang terang atau berkedip dan pakai kaca mata hitam jika sinar matahari adalah pencetusnya.
  • Identifikasi dan hindari makanan-makanan yang mencetus sakit-sakit kepala dengan membuat catatan harian sakit kepala dan makanan. Tinjau ulang catatan harian dengan dokter anda. Adalah tidak practical untuk mengadopsi diet yang menghindari semua pencetus-pencetus migraine yang diketahui; bagaimanapun, adalah layak untuk menghindari makanan-makanan yang secara konsisten mencetus sakit-sakit kepala migraine.
  • Obat-Obat Prophylactic Apa Untuk Sakit-Sakit Kepala Migraine ?

    Obat-obat prophylactic adalah obat-obat yang dikonsumsi setiap hari untuk mengurangi frekwensi dan durasi dari sakit-sakit kepala migraine. Mereka tidak dikonsumsi sekali sakit kepala telah mulai. Ada beberapa kelompok-kelompok dari obat-obat prophylactic:

    Obat-obat dengan sejarah penggunaan yang paling panjang adalah propranolol (Inderal), beta blocker, dan amitriptyline (Elavil, Endep), antidepressant. Ketika memilih obat prophylactic untuk pasien dokter harus mempertimbangkan efek-efek sampingan dari obat, inetransi-interaksi obat ke obat, dan kondisi-kondisi yang hadir bersamaan seperti diabetes, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.

    Beta blockers

    Beta-blockers adalah kelompok dari obat-obat yang menghalangi efek-efek dari senyawa-senyawa beta-adrenergic yang dihasilkan oleh tubuh, terutama syaraf-syaraf dan kelenjar adrenal, seperti adrenaline (epinephrine). Dengan menghalangi efek-efek dari adrenaline, beta-blockers membebaskan stres pada jantung dengan memperlambat denyut jantung. Beta-blockers telah digunakan untuk merawat tekanan darah tinggi, angina, tipe-tipe tertentu dari tremor-tremor (gemetar), stage fright, dan denyut jantung yang cepatnya abnormal (palpitations). Mereka juga telah menjadi obat-obat penting untuk memperbaiki kelangsungan hidup setelah serangan-serangan jantung. Beta-blockers telah digunakan bertahun-tahun untuk mencegah sakit-sakit kepala migraine.

    Tidak diketahui bagaimana beta-blockers mencegah sakit-sakit kepala migraine. Mungkin dengan mengurangi produksi prostaglandin, meskipun juga mungkin melalui efek-efek mereka pada serotonin atau efek langsung pada arteri-arteri. Beta-blockers yang digunakan dalam mencegah sakit-sakit kepala migraine termasuk propranolol (Inderal), atenolol (Tenormin), metoprolol (Lopressor, Lopressor LA, Toprol XL), nadolol (Corgard), dan timolol (Blocadren).

    Beta-blockers umumnya ditolerir dengan baik. Mereka dapat memperburuk kesulitan-kesulitan bernapas pada pasien-pasien dengan asma, bronchitis kronis, atau emphysema. Pada pasien-pasien yang telah mempunyai denyut-denyut jantung yang lambat (bradycardias) dan halangan jantung (kerusakan-kerusakan pada konduksi elektrik dalam jantung), beta-blockers dapat menyebabkan denyut-denyut jantung yang lambatnya berbahaya. Beta-blockers dapat memperburuk gejala-gejala dari gagal jantung. Efek-efek sampingan lain termasuk rasa ngantuk, diare, sembelit, kelelahan, berkurang dalam daya tahan, insomnia, mual, depresi, mimpi, kehilangan memori, impoten.

    Tricyclic antidepressants

    Tricyclic antidepressants (TCAs) mencegah sakit-sakit kepala migraine dengan merubah neurotransmitters, norepinephrine dan serotonin, yang digunakan oleh syaraf-syaraf otak untuk berkomunikasi satu dengan lainnya. Tricyclic antidepressants yang telah digunakan dalam mencegah sakit-sakit kepala migraine termasuk amitriptyline (Elavil, Endep), nortriptyline (Pamelor, Aventyl), doxepin (Sinequan), imipramine (Tofranil), dan protriptyline.

    Effek-efek sampingan yang paling umum dihadapi (ditemui) yang berhubungan dengan TCAs adalah denyut jantung yang cepat, penglihatan yang kabur, kesulitan untuk membuang air kecil (kencing), mulut yang kering, sembelit, penambahan atau kehilangan berat badan, dan tekanan darah rendah ketika berdiri atau bangun (orthostatic hypotension).

    TCAs harus tidak digunakan dengan obat-obat yang menghalangi monoamine oxidase seperti isocarboxazid (Marplan), phenelzine (Nardil), tranylcypromine (Parnate), dan procarbazine (Matulane), karena demam yang tinggi, convulsions (gangguan hebat) dan bahkan kematian mungkin terjadi. TCAs digunakan dengan berhati-hati pada orang-orang dengan seizures, karena mereka dapat meningkatkan risiko seizures. TCAs juga digunakan dengan berhati-hati pada pria-pria dengan pembesaran prostate karena mereka dapat membuat kesulitan kencing. TCAs dapat menyebabkan tekanan yang meningkat pada mata-mata pada beberapa penderita-penderita glaucoma. TCAs dapat menyebabkan sedasi (penenang) yang berlebihan jika digunakan dengan obat-obat lain yang memperlambat proses-proses otak, seperti alkohol, barbiturates, narcotics, dan benzodiazepines, contohnya, lorazepam (Ativan), diazepam (Valium), temazepam (Restoril), oxazepam (Serax), clonazepam (Klonopin), dan zolpidem (Ambien). Epinephrine harus tidak digunakan dengan amitriptyline, karena kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang parah.

    Obat-obat Antiserotonin

    Methysergide (Sansert) mencegah sakit-sakit kepala migraine dengan menyempitkan pembuluh-pembuluh darah dan mengurangi peradangan dari pembuluh-pembuluh darah. Methylergonovine secara kimia berhubungan dengan methysergide dan mempunyai mekanisme aksi yang serupa. Mereka tidak digunakan secara luas karena efek-efek sampingan mereka. Efek samping yang paling serius dari methysergide adalah retroperitoneal fibrosis (luka parut dari jaringan sekitar ureters yang mengangkut urin dari ginjal-ginjal ke kantong kemih). Retroperitoneal fibrosis, meskipun jarang, dapat menghalangi ureters dan menyebabkan baliknya urin kedalam ginjal-ginjal. Kembalinya urin kedalam ginjal-ginjal dapat menyebabkan nyeri belakang dan samping (sisi tubuh antara tulang-tulang rusuk dan pinggul) dan akhirnya dapat menjurus pada gagal ginjal. Methysergide juga telah dilaporkan menyebabkan luka parut sekitar paru-paru yang dapat menjurus pada nyeri dada, sesak napas, serta luka parut dari klep-klep jantung.

    Calcium channel blockers

    Calcium channel blockers (CCBs) adalah kelompok dari obat-obat yang menghalangi masukya calcium kedalam sel-sel otot dari jantung dan arteri-arteri. Dengan menghalangi masuknya calcium, CCBs mengurangi kontraksi dari otot jantung, mengurangi denyut jantung, dan menurunkan tekanan darah. CCBs digunakan untu merawat tekanan darah tinggi, angina, dan irama-irama jantung yang abnormal (aritmia) (contohnya atrial fibrillation). CCBs juga nampak menghalangi efek-efek dari kimia didalam syaraf-syaraf, yang disebut serotonin, dan telah digunakan adakalanya untuk mencegah sakit-sakit kepala migraine. CCBs yang digunakan dalam mencegah sakit-sakit kepala migraine adalah diltiazem (Cardizem, Dilacor, Tiazac), verapamil (Calan, Verelan, Isoptin), dan nimodipine.

    Efek-efek sampingan yang paling umum dari CCBs adalah sembelit, mual, sakit kepala, rash, edema (pembengkakan tungkai-tungkai dengan cairan), tekanan darah rendah, rasa ngantuk, dan dizziness. Jika diltiazem atau verapamil diberikan pada individu-individu dengan gagal jantung, gejala-gejala dari gagal jantung mungkin memburuk karena obat-obat ini mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah. Verapamil dan diltiazem mungkin mengurangi eliminasi dan meningkatkan tingkat-tingkat darah dari carbamazepine (Tegretol), simvastatin (Zocor), atorvastatin (Lipitor), dan lovastatin (Mevacor). Ini dapat menjurus pada keracunan dari obat-obat ini.

    Anticonvulsants

    Anticonvulsants (obat-obat antiseizure) juga telah digunakan untuk mencegah sakit-saskit kepala migraine. Contoh-contoh dari anticonvulsants yang telah digunakan adalah valproic acid, phenobarbital, gabapentin, dan topiramate. Tidak diketahui bagaimana anticonvulsants bekerja untuk mencegah sakit-sakit kepala migraine.

    Siapa harus mempertimbangkan obat-obat prophylactic untuk mencegah sakit-sakit kepala migraine ?

    Tidak semua penderita-penderita migraine memerlukan obat-obat prophylactic; individu-individu dengan sakit-sakit kepala yang ringan atau jarang yang secara siap merespon pada obat-obat abortive tidak memerlukan obat-obat prophylactic. Individu-individu yang harus mempertimbangkan obat-obat prophylactic adalah mereka yang:

    1. Memerlukan obat-obat abortive untuk sakit-sakit kepala migraine lebih sering daripada dua kali seminggu.
    2. Mempunyai dua atau lebih sakit-sakit kepala migraine per bulan yang tidak merespon secara siap pada obat-obat abortive.
    3. Mempunyai sakit-sakit kepala migraine yang mengganggu secara substansial kwalitas hidup dan pekerjaan mereka.
    4. Tidak dapat mengkonsumsi obat-obat abortive karena penyakit jantung, stroke, atau kehamilan, atau tidak dapat metolerir obat-obat abortive karena efek-efek sampingannya.

    Berapa efektif obat-obat prophylactic ?

    Obat-obat prophylactic dapat mengurangi frekwensi dan durasi dari sakit-sakit kepala migraine namun tidak dapat diharapkan untuk mengeliminasi sakit-sakit kepala migraine sepenuhnya. Angka keberhasilan dari kebanyakan obat-obat prophylactic adalah kira-kira 50%. Kesuksesan dalam mencegah sakit-sakit kepala migraine ditentukan sebagai lebih dari 50% pengurangan dalam frekwensi dari sakit-sakit kepala. Obat-obat prophylactic biasanya dimulai pada dosis yang rendah yang ditingkatkan secara perlahan dalam rangka mengecilkan efek-efek sampingan. Individu-individu mungkin tidak merasakan pengurangan dalam frekwensi, keparahan, atau durasi dari sakit-sakit kepala mereka untuk 2 sampai 3 bulan setelah memulai perawatan.



Alat Steril Botol Susu Bayi

5

Milyar

Rupiah

Anda Ingin Penghasilan Yang Legal (5 Milyar Rp ?), Mudah Dan Yang Terpenting Bukan Money Game ?

Klik Website ini :

5 Milyar Rupiah