Irritable Bowel Syndrom
Penyebab IBS
Seperti didiskusikan sebelumnya, IBS dipercayai disebabkan oleh fungsi abnormal (dysfunction) dari otot-otot dari organ-organ saluran pencernaan atau syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ. Pengontrolan syaraf dari saluran pencernaan, bagaimanpun, adalah kompleks. Suatu sistim dari syaraf-syaraf berlari di seluruh panjang dari saluran pencernaan dari kerongkongan sampai ke anus (dubur) didalam dinding-dinding yang berotot dari organ-organ. Syaraf-syaraf ini berkomunikasi dengan syaraf-syaraf lain yang berjalan ke dan dari sumsum tulang belakang (spinal cord). Syaraf-syaraf didalam spinal cord, pada gilirannya, berjalan ke dan dari otak. Saluran pencernaan dilebihi dalam jumlah-jumlah syaraf-syaraf yang dikandungnya hanya oleh spinal cord dan otak. Jadi, fungsi abnormal dari sistim syaraf pada IBS mungkin terjadi pada suatu organ pencernaan yang berotot, sumsum tulang belakang (spinal cord), atau otak.
Sistim syaraf yang mengontrol orggan-organ pencernaan, seperti dengan kebanyakan organ-organ lain, mengandung keduanya syaraf-syaraf sensory dan motor. Syaraf-syaraf sensory secara terus menerus merasakan apa yang terjadi didalam organ dan menyampaikan informasi ini ke syaraf-syaraf di dinding organ. Dari sana, informasi dapat disampaikan ke sumsum tulang belakang (spinal cord) dan otak. Informasi diterima dan diproses di dinding organ, spinal cord, atau otak. Kemudian, berdasarkan masukan sensory ini dan caranya masukan diproses, perintah-perintah (respon-respon) dikirim ke organ melalui syaraf-syaraf motor. Dua dari respon-respon motor yang paling umum pada usus adalah kontraksi (contraction) atau relaksasi (relaxation) dari otot organ dan pengeluaran dari cairan dan/atau lendir kedalam organ.
Seperti telah disebutkan, fungsi abnormal dari syaraf-syaraf organ-organ pencernaan, paling sedikit secara teori, mungkin terjadi pada organ, sumsum tulang belakang, atau otak. Selain itu, kelainan-kelainan mungkin terjadi pada syaraf-syaraf sensory, syaraf-syaraf motor, atau pada pusat-pusat pemrosesan usus, spinal cord, atau otak. Beberapa peneliti-peneliti memperdebatkan bahwa penyebab dari penyakit-penyakit fungsional adalah kelainan-kelainan pada fungsi dari syaraf-syaraf sensory. Contohnya, aktivitas-aktivitas normal, seperti peregangan dari usus kecil oleh makanan, mungkin memberikan kenaikan pada tanda-tanda abnormal sensory yang dikirim ke spinal cord dan otak, dimana mereka dirasakan sebagai nyeri/sakit.
Peneliti-peneliti lain berdebat bahwa penyebab dari penyakit-penyakit fungsional adalah kelainan-kelainan pada fungsi dari syaraf-syaraf motor. Contohnya, perintah-perintah abnormal melalui syaraf-syaraf motor mungkin menghasilkan suatu kejang yang menyakitkan (contraction) dari otot-otot. Masih yang lain-lain berdebat bahwa pusat-pusat pemrosesan yang berfungsi abnormal bertanggung jawab untuk penyakit-penyakit fungsional karena mereka salah menafsirkan sensasi-sensasi yang normal atau mengirim perintah-perintah abnormal ke organ. Faktanya, beberapa penyakit-penyakit fungsional mungkin disebabkan oleh kelainan fungsi (dysfunction) sensory, motor dysfunction, atau kelainan fungsi keduanya yaitu sensory dan motor. Masih yang lain-lain mungkin disebabkan oleh kelainan-kelainan didalam pusat-pusat pemrosesan. Satu area yang menerima sebagian besar perhatian ilmu pengetahuan adalah peran yang potensial dari gas yang dihasilkan oleh bakteri usus pada pasien-pasien dengan IBS. Studi-studi telah menunjukan bahwa pasien-pasien dengan IBS menghasilkan jumlah-jumlah gas yang lebih besar daripada individu-individu tanpa IBS, dan gas mungkin tertahan lebih lama didalam usus kecil. Diantara pasien-pasien dengan IBS, ukuran perut meningkat sepanjang hari, mencapai suatu maksimum pada sore hari dan kembali ke basis pada pagi hari berikutnya. Pada individu-individu tanpa IBS, tidak ada penigkatan pada ukuran perut selama seharian.
Telah ada banyak kontroversi tentang peran yang mungkin dimainkan oleh pencernaan dan/atau penyerapan gula makanan yang buruk dalam perburukan gejala-gejala dari IBS. Pencernaan yang buruk dari lactose, suatu gula dalam susu, adalah sangat umum seperti penyerapan yang buruk dari fructose, suatu pemanis yang ditemukan pada banyak makanan-makanan yang diproses. Pencernaan atau penyerapan yang buruk dari gula-gula ini dapat memperburuk gejala-gejala dari IBS karena gula-gula yang tidak terserap seringkali menyebabkan pembentukan gas yang meningkat.
Meskipun kelainan-kelainan ini dalam produksi dan pengangkutan dari gas dapat memberikan kenaikan pada beberapa gejala-gejala dari IBS, lebih banyak kerja akan diperlukan untuk dilakukan sebelum peran dari gas usus pada IBS menjadi jelas.
Lemak makanan pada individu-individu yang sehat menyebabkan makanan dan juga gas untuk bergerak lebih perlahan melalui lambung dan usus kecil. Beberapa pasien-pasien dengan IBS mungkin bahkan merespon pada lemak makanan dalam suatu cara yang berlebihan dengan perlambatan yang lebih besar. Jadi, lemak makanan dapat dan mungkin melakukan perburukan gejala-gejala dari IBS.
|