Tekanan Darah Tinggi
Menilai kerusakan Akhir Organ Pada Pasien Dengan Hipertensi
Seperti telah disebutkan, hipertensi kronis dapat menjurus pada pembesaran jantung, gagal ginjal, kerusakan otak atau syaraf, dan perubahan-perubahan dalam retina pada belakang mata. Pemeriksaan mata-mata pada pasien-pasien dengan hipertensi berat dapat mengungkapkan kerusakan, penyempitan arteri-arteri kecil, hemorrhage-hemorrhage kecil (kebocoran darah) pada retina, dan pembengkakkan syaraf mata. Dari jumlah kerusakan, dokter dapat mengukur keparahan dari hipertensi.
Orang-orang dengan hipertensi mempunyai suatu kekakuan yang meningkat, atau resitensi, pada arteri-arteri sekeliling diseluruh jaringan-jaringan tubuhnya. Peningkatan resistensi ini menyebabkan otot jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh-pembuluh darah ini. Peningkatan beban kerja ini dapat menegangkan jantung, yang dapat menjurus pada kelainan-kelanan jantung yang umumnya pertama kali terlihat sebagai pembesaran otot jantung. Pembesaran jantung dapat dievaluasi dengan x-ray dada, elektrokardiogram (electrocardiogram), dan paling tepat dengan echocardiography (suatu pemeriksaan jantung dengan ultrasound). Echocardiography terutama berguna dalam menentukan ketebalan (pembesaran) dari jantung bagian kiri (sisi pompa utama). Pembesaran jantung mungkin adalah suatu pertanda dari gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan suatu kelainan irama jantung/cardiac arrhythmias. Pengobatan hipertensi dan komplikasi-komplikasinya yang tepat dapat membalikkan beberapa kelainan-kelainan jantung ini.
Tes-tes darah dan air seni mungkin berguna dalam mendeteksi kelainan-kelainan ginjal pada orang-orang dengan hipertensi. Ingat bahwa kerusakan ginjal dapat sebagai penyebab atau akibat hipertensi. Mengukur serum kreatinin (serum creatinine) didalam darah dapat menilai seberapa bagusnya fungsi ginjal. Suatu kadar serum kreatinin yang meningkat mengindikasikan kerusakan pada ginjal. Sebagai tambahan, kehadiran protein didalam air seni (proteinuria) dapat merefleksikan kerusakan ginjal dari hipertensi, bahkan jika fungsi ginjal normal (seperti diwakili oleh tingkat kreatinin darah). Protein sendirian didalam air seni memberi tanda-tanda risiko kemerosotan fungsi ginjal jika tekanan darah tidak dikontrol. Bahkan jumlah kecil dari protein (microalbuminuria) mungkin adalah suatu signal dari gagal ginjal yang akan datang dan komplikasi-komplikasi vaskuler lain dari hipertensi yang tidak terkontrol. Orang-orang Amerika keturunan Afrika dengan pengontrolan hipertensi yang miskin ada pada risiko yang lebih tinggi dibanding orang-orang kulit putih (caucasians) untuk kerusakan akhir organ terutama kerusakan ginjal.
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan stroke, yang dapat menjurus pada kerusakkan otak atau syaraf. Stroke-stroke umumnya disebabkan oleh suatu hemorrhage (kebocoran darah/leaking blood) atau suatu gumpalan darah (thrombosis) dari pembuluh-penbuluh darah yang mensupali darah ke otak. Gejala-gejala dan tanda-tanda (penemuan-penemuan pada pemeriksaan fisik) pasien dievaluasi untuk menilai kerusakkan syaraf. Sebuah stroke dapat menyebabkan kelemahan, kesemutan/rasa geli, atau kelumpuhan dari tangan-tangan atau kaki-kaki dan kesulitan-kesulitan bicara dan penglihatan. Stroke-stroke kecil yang berganda dapat menjurus pada dementia (kapasitas intelektual yang lemah/impaired intellectual capacity). Pencegahan yang paling baik untuk komplikasi-komplikasi hipertensi ini adalah kontrol tekanan darah. Studi-studi terakhir juga telah menyarankan bahwa obat-obat angiotensin receptor blockers dapat menawarkan suatu efek perlindungan tambahan melawan stroke-stroke melampaui kontrol tekanan darah.
|