Penyakit Refluks

Gastro Esofageal

(PRGE)



Mendiagnosa Dan Mengevaluasi PRGE/GERD

Gejala-Gejala Dan Respon Pada Perawatan (Percobaan Therapeutic)

Cara yang biasa PRE/GERD didiagnosa atau paling sedikit dicurigai adalah dengan gejala-gejala karakteristiknya, heartburn (rasa panas/nyeri di dada). Heartburn paling sering digambarkan sebagai perasaan terbakar dari sub-sternal (dibawah bagian tengah dada) yang terjadi setelah makan-makan dan seringkali memburuk ketika berbaring (terlentang). Untuk mengkonfirmasi diagnosis, dokter-dokter sering merawat pasien-pasien dengan obat-obat untuk menekan produksi asam oleh lambung. Jika heartburn kemudian berkurang banyak, diagnosis dari PRGE/GERD dipertimbangkan sebagai konfirmasi. Pendekatan membuat diagnosis ini pada basis dari respon gejala-gejala pada perawatan umumnya disebut percobaan therapeutic.

Ada persoalan-persoalan dengan pendekatan ini, bagaimanapun, terutama karena ia tidak memasukan/meliputi tes-tes diagnostik. Misalnya, pasien-pasien yang mempunyai kondisi-kondisi yang dapat meniru PRGE/GERD, terutama borok-borok atau ulkus-ulkus duodenum atau lambung, juga dapat sebenarnya merespon pada perawatan sepert ini. Pada situasi ini, jika dokter mengasumsikan bahwa persoalannya adalah PRGE/GERD, ia tidak akan mencari penyebab dari penyekit borok (ulkus). Contohnya, tipe dari infeksi yang disebut Helicobacter pylori, atau obat-obat anti-peradangan nonsteroid (contohnya, ibuprofen), dapat juga menyebabkan borok-borok dan kondisi-kondisi ini akan dirawat secara berbeda dari PRGE/GERD.

Lebih dari itu, seperti dengan segala perawatan, mungkin ada 20% efek placebo, yang berarti bahwa 20% dari pasien-pasien akan merespon pada pil placebo (tidak aktif) atau, tentu saja, pada perawatan apa saja. Ini berarti bahwa 20% dari pasien-pasien yang mempunyai sebab-sebab dari gejala-gejala mereka lain daripada PRGE/GERD (atau borok-borok) akan mempunyai pengurangan pada gejala-gejala mereka setelah menerima perawatan untuk PRGE/GERD. Jadi, pada basis dari respon mereka pada perawatan (percobaan therapeutic), pasien-pasien ini kemudian akan terus menerus dirawat untuk PRGE/GERD, meskipun mereka tidak mempunyai PRGE/GERD. Apa yang lebih, penyebab yang benar dari gejala-gejala mereka tidak akan dikejar lebih jauh.

Endoskopi

Endoskopi pencernaan bagian atas (juga dikenal sebagai esophago-gastro-duodenoscopy atau EGD) adalah cara yang umum mendiagnosa PRGE/GERD. EGD adalah prosedur dimana tabung yang mengandung sistim optik untuk visualisasi (penglihatan) ditelan. Ketika tabung maju menuruni saluran pencernaan, lapisan dari esofagus, lambung, dan duodenum dapat diperiksa.

Esofagus dari kebanyakan pasien-pasien dengan gejala-gejala refluks terlihat normal. Oleh karenanya, pada kebanyakan pasien-pasien, endoskopi tidak akan membantu dalam diagnosis dari PRGE/GERD. Bagaimanapun, adakalanya lapisan esofagus nampak meradang (esophagitis). Lebih dari itu, jika erosi-erosi (pecahan-pecahan yang dangkal dari lapisan esofagus) atau borok-borok (pecahan-pecahan yang lebih dalam pada lapisan) terlihat, diagnosis PRGE/GERD dapat dibuat meyakinkan. Endoskopi akan juga mengidentifikasi beberapa komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD, terutama, borok-borok (ulcers), strictures (penyempitan-penyempitan), dan Barrett's esophagus. Biopsi-biopsi juga mungkin diperoleh.

Akhirnya, persoalan-persoalan umum lain yang mungkin menyebabkan gejala-gejala seperti PRGE/GERD dapat didiagnosa (contohnya borok-borok, peradangan, atau kanker-kanker dari lambung atau duodenum).

Biopsi-Biopsi

Biopsi-biopsi dari esofagus yang diperoleh melalui endoskopi tidak dipertimbangkan sangat bermanfaat untuk mendiagnosa PRGE/GERD. Mereka bermanfaat, bagaimanapun, dalam mendiagnosa kanker-kanker atau penyebab-penyebab peradangan esofagus lain daripada refluks asam, terutama infeksi-infeksi. Lebih dari itu, biopsi-biopsi adalah satu-satunya alat mendiagnosa perubahan-perubahan sel dari Barrett's esophagus. Lebih baru-baru ini, telah disarankan bahwa bahkan pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD yang esofagusnya terlhat normal pada mata, biopsi-biopsi akan menunjukan pelebaran dari ruang-ruang antara sel-sel lapisan, kemungkinan indikasi dari kerusakan. Terlalu dini untuk menyimpulkan, bagaimanapun, bahwa melihat pelebaran adalah cukup spesifik untu menyimpulkan secara meyakinkan bahwa PRGE/GERD hadir.

X-rays

Sebelum pengenalan endoskopi, x-ray dari esofagus (disebut esophagram) adalah satu-satunya alat mendiagnosa PRGE/GERD. Pasien-pasien menelan barium (material kontras), dan x-rays dari esofagus yang diisi dengan barium kemudian diambil. Persoalan dengan esophagram adalah bahwa ia adalah tes yang tidak sensitif (peka) untuk mendiagnosa PRGE/GERD. Yaitu, ia gagal untuk menemukan tanda-tanda dari PRGE/GERD pada banyak pasien-pasien yang mempunyai PRGE/GERD karena pasien-pasien mempunyai sedikit atau tidak ada kerusakan pada lapisan esofagus. X-rays mampu untuk menunjukan hanya komplikasi-komplikasi PRGE/GERD yang jarang, contohnya, borok-borok dan penyempitan-penyempitan. X-rays telah ditinggalkan sebagai alat-alat mendiagnosa PRGE/GERD, meskipun mereka masih dapat bermanfaat bersama dengan endoskopi dalam mengevaluasi komplikasi-komplikas.

Pemeriksaan Tenggorokan Dan Larynx

Ketika PRGE/GERD mempengaruhi tenggorokan atau larynx dan menyebabkan gejala-gejala batuk, keparauan, atau sakit tenggorokan, pasien-pasien sering mengunjungi spesialis THT (tenggorokan, hidung dan telinga). Spesialis THT seringkali menemukan tanda-tanda peradangan dari tenggorokan atau larynx. Meskipun penyakit-penyakit tenggorokan atau larynx biasanya adalah penyebab peradangan, adakalanya PRGE/GERD dapat menjadi penyebabnya. Sesuai dengannya, spesialis-spesialis THT sering mencoba perawatan yang menekan asam untuk mengkonfirmasikan diagnosis dari PRGE/GERD. Pendekatan ini, bagaimanapun, mempunyai persoalan yang sama yang, seperti didiskusikan diatas, berakibat dari menggunakan respon pada perawatan untuk mengkonfirmasi PRGE/GERD.

Pengujian Asam Esofagus

Esophageal acid testing is considered a "gold standard" for diagnosing GERD. As discussed previously, the reflux of acid is common in the general population. However, patients with the symptoms or complications of GERD have reflux of more acid than individuals without the symptoms or complications of GERD. Moreover, normal individuals and patients with GERD can be distinguished moderately well from each other by the amount of time that the esophagus contains acid.

The amount of time that the esophagus contains acid is determined by a test called a 24-hour esophageal pH test. (pH is a mathematical way of expressing the amount of acidity.) For this test, a small tube (catheter) is passed through the nose and positioned in the esophagus. On the tip of the catheter is a sensor that senses acid. The other end of the catheter exits from the nose, wraps back over the ear, and travels down to the waist, where it is attached to a recorder. Each time acid refluxes back into the esophagus from the stomach, it stimulates the sensor and the recorder records the episode of reflux. After a 20 to 24 hour period of time, the catheter is removed and the record of reflux from the recorder is analyzed.

There are problems with using pH testing for diagnosing GERD. Despite the fact that normal individuals and patients with GERD can be separated fairly well on the basis of pH studies, the separation is not perfect. Therefore, some patients with GERD will have normal amounts of acid reflux and some patients without GERD will have abnormal amounts of acid reflux. It requires something other than the pH test to confirm the presence of GERD, for example, typical symptoms, response to treatment, or the presence of complications of GERD. GERD also may be confidently diagnosed when episodes of heartburn correlate with acid reflux as shown by acid testing.

pH testing has uses in the management of GERD other than just diagnosing GERD. For example, the test can help determine why GERD symptoms do not respond to treatment. Perhaps 10 to 20 percent of patients will not have their symptoms substantially improved by treatment for GERD. This lack of response to treatment could be caused by ineffective treatment. This means that the medication is not adequately suppressing the production of acid by the stomach and is not reducing acid reflux. Alternatively, the lack of response can be explained by a wrong diagnosis of GERD. In both of these situations, the pH test can be very useful. If testing reveals substantial reflux of acid while medication is continued, then the treatment is ineffective and will need to be changed. If testing reveals good acid suppression with minimal reflux of acid, the diagnosis of GERD is likely to be wrong and other causes for the symptoms need to be sought.

pH testing also can be used to help evaluate whether reflux is the cause of symptoms (usually heartburn). To make this evaluation, while the 24-hour ph testing is being done, patients record each time they have symptoms. Then, when the test is being analyzed, it can be determined whether or not acid reflux occurred at the time of the symptoms. If reflux did occur at the same time as the symptoms, then reflux is likely to be the cause of the symptoms. If there was no reflux at the time of symptoms, then reflux is unlikely to be the cause of the symptoms.

Lastly, pH testing can be used to evaluate patients prior to endoscopic or surgical treatment for GERD. As discussed above, some 20% of patients will have a decrease in their symptoms even though they don't have GERD (the placebo effect). Prior to endoscopic or surgical treatment, it is important to identify these patients because they are not likely to benefit from the treatments. The pH study can be used to identify these patients because they will have normal amounts of acid reflux.

A newer method for prolonged measurement (48 hours) of acid exposure in the esophagus utilizes a small, wireless capsule that is attached to the esophagus just above the LES. The capsule is passed to the lower esophagus by a tube inserted through either the mouth or the nose. After the capsule is attached to the esophagus, the tube is removed. The capsule measures the acid refluxing into the esophagus and transmits this information to a receiver that is worn at the waist. After the study, usually after 48 hours, the information from the receiver is downloaded into a computer and analyzed. The capsule falls off of the esophagus after 3-5 days and is passed in the stool. (The capsule is not reused.)

The advantage of the capsule over standard pH testing is that there is no discomfort from a catheter that passes through the throat and nose. Moreover, with the capsule, patients look normal (they don't have a catheter protruding from their noses) and are more likely to go about their daily activities, for example, go to work, without feeling self-conscious. Because the capsule records for a longer period than the catheter (48 versus 24 hours), more data on acid reflux and symptoms are obtained. Nevertheless, it is not clear whether obtaining additional information is important.

Capsule pH testing is expensive. Sometimes the capsule does not attach to the esophagus or falls off prematurely. For periods of time the receiver may not receive signals from the capsule, and some of the information about reflux of acid may be lost. Occasionally there is pain with swallowing after the capsule has been placed. Use of the capsule is an exciting use of new technology although it has its own specific problems.

Pengujian Motilitas (Kemampuan Gerakan) Esofagus

Esophageal motility testing determines how well the muscles of the esophagus are working. For motility testing, a thin tube (catheter) is passed through a nostril, down the back of the throat, and into the esophagus. On the part of the catheter that is inside the esophagus are sensors that sense pressure. A pressure is generated within the esophagus that is detected by the sensors on the catheter when the muscle of the esophagus contracts. The end of the catheter that protrudes from the nostril is attached to a recorder that records the pressure. During the test, the pressure at rest and the relaxation of the lower esophageal sphincter are evaluated. The patient then swallows sips of water to evaluate the contractions of the esophagus.

Esophageal motility testing has two important uses in evaluating GERD. The first is in evaluating symptoms that do not respond to treatment for GERD. The abnormal function of the esophageal muscle sometimes causes symptoms that resemble the symptoms of GERD. Motility testing can identify some of these abnormalities and lead to a diagnosis of an esophageal motility disorder. The second use is evaluation prior to surgical or endoscopic treatment for GERD. In this situation, the purpose is to identify patients who also have motility disorders of the esophageal muscle. The reason for this is that in patients with motility disorders, some surgeons will modify the type of surgery they perform for GERD.

Studi-Studi Pengosongan Lambung

Gastric emptying studies are studies that determine how well food empties from the stomach. As discussed above, about 20 % of patients with GERD have slow emptying of the stomach that may be contributing to the reflux of acid. For gastric emptying studies, the patient eats a meal that is labeled with a radioactive substance. A sensor that is similar to a Geiger counter is placed over the stomach to measure how quickly the radioactive substance in the meal empties from the stomach.

Information from the emptying study can be useful for managing patients with GERD. For example, if a patient with GERD continues to have symptoms despite treatment with the usual medications, doctors might prescribe other medications that speed-up emptying of the stomach. Alternatively, in conjunction with GERD surgery, they might do a surgical procedure that promotes a more rapid emptying of the stomach. Nevertheless, it is still debated whether a finding of reduced gastric emptying should prompt changes in the surgical treatment of GERD.

Symptoms of nausea, vomiting, and regurgitation may be due either to abnormal gastric emptying or GERD. An evaluation of gastric emptying, therefore, may be useful in identifying patients whose symptoms are due to abnormal emptying of the stomach rather than to GERD.

Tes Penuangan Asam

Tes penuangan asam (Bernstein) digunakan untuk menentukan apakah nyeri dada disebabkan oleh refluks asam. Untuk tes ini, tabung kecil dimasukan melalui satu lubang hidung, menuruni belakang tenggorokan, dan kedalam bagian tengah dari esofagus. Larutan asam yang diencerkan dan larutan garam normal dituangkan secara bergantian melalui kateter dan kedalam esofagus. Pasien tidak sadar larutan mana yang sedang di-infuskan. Jika penuangan dengan asam membangkitkan nyeri pasien yang biasa dan penuangan dari larutan garam tidak menghasilkan nyeri, kemungkinan adalah bahwa nyeri pasien disebabkan oleh refluks asam.

Tes penuangan asam, bagaimanapun, digunakan hanya secara jarang sekali. Tes yang lebih baik untuk menghubungkan nyeri dan refluks asam adalah studi 24 jam pH esofagus atau kapsul pH dimana selama tes ini pasien-pasien mencatat ketika mereka mempunyai neri. Kemudian dapat ditentukan dari rekaman pH jika ada episode refluks asam pada saat nyeri. Ini adalah cara yang disukai dalam memutuskan apakah refluks asam menyebabkan nyeri pasien. Ia tidak bekerja baik, bagaimanapun, untuk pasien-pasien yang mempunyai nyeri yang jarang, contohnya setiap dua-tiga hari, yang mungkin luput (tidak tertangkap) oleh studi pH satu atau dua hari. Pada kasus-kasu ini, tes penuangan asam mungkin adalah layak/pantas.



Alat Steril Botol Susu Bayi

5

Milyar

Rupiah

Anda Ingin Penghasilan Yang Legal (5 Milyar Rp ?), Mudah Dan Yang Terpenting Bukan Money Game ?

Klik Website ini :

5 Milyar Rupiah