(Mesin Pencari Google)





Radang Borok Usus Besar

(Ulcerative Colitis)



Obat-Obat Imunomodulator

Imunomodulator-imunomodulator adalah obat-obat yang memperlemah sistim imun tubuh. Sitim imun terdiri dari sel-sel imun dan protein-protein yang dihasilkan oleh sel-sel ini. Sel-sel dan protein-protein ini melayani untuk mempertahankan tubuh dari bakteri-bakteri, virus-virus, jamur-jamur, dan penyerang-penyerang asing lain yang berbahaya. Pengaktifan dari sistim imun menyebabkan peradangan dalam jaringan-jaringan dimana pengaktifan terjadi. (Peradangan adalah, faktanya, suatu mekanisme yang penting untuk mempertahankan tubuh yang digunakan oleh sistim imun). Secara normal, sistim imun diaktifkan hanya ketika tubuh terpapar pada penyerang-penyerang yang berbahaya. Pada psien-pasien dengan penyakit Crohn dan radang borok usus besar, bagaimanapun, sistim imun diaktifkan secara abnormal dan kronis pada ketidakhadiran dari penyerang mana saja yang diketahui. Imunomodulator-imunomodulator mengurangi peradangan jaringan dengan mengurangi populasi dari sel-sel imun dan/atau dengan mengganggu produksi protein-proteinnya yang memajukan pengaktifan imun dan peradangan. Pada umumnya, manfaat-manfaat dari mengontrol radang borok usus besar yang sedang sampai berat melebihi risiko-risiko infeksi yang disebabkan oleh imun yang dilemahkan. Contoh-contoh dari imunodulator-imunomodulator termasuk azathioprine (Imuran), 6-mercaptopurine (6-MP, Purinethol), cyclosporine (Sandimmune), dan methotrexate (Rheumatrex, Trexall).

Azathioprine (Imuran) dan 6-MP (Purinethol)

Azathioprine dan 6-mercaptopurine (6-MP) adalah obat-obat yang melemahkan imunitas (kekebalan) tubuh dengan mengurangi populasi dari suatu kelompok sel-sel imun yang disebut lymphocytes. Azathioprine dan 6-MP adalah berhubungan secara kimia. Secara spisifik, azathioprine dirubah kedalam 6-MP didalam tubuh. Pada dosis-dosis tinggi, dua obat-obat ini telah bermanfaat dalam mencegah penolakkan organ-organ yang dicangkok dan dalam merawat leukemia. Pada dosis-dosis rendah, mereka telah digunakan bertahun-tahun untuk merawat pasien-pasien dengan penyakit Crohn dan radang borok usus besar yang sedang sampai berat.

Azathioprine dan 6-MP bertambah diakui oleh dokter-dokter sebagai obat-obat yang bernilai dalam merawat penyakit Crohn dan radang borok usus besar. Kira-kira 70% dari pasien-pasien dengan penyakit yang sedang sampai berat akan mendapat manfaat dari obat-obat ini. Karena penimbulan aksi yang lambat dan potensi untuk efek-efek sampingan, bagaimanapun, 6-MP dan azathioprine digunakan terutama pada situasi-situasi berikut:

  • Pasien-pasien radang borok usus besar dan penyakit Crohn dengan penyakit yang parah yang tidak merespon pada kortikosteroid-kortikosteroid.
  • Pasien-pasien yang mengalami efek-efek sampingan yang berkaitan dengan kortikosteroid yang tidak diinginkan.
  • Pasien-pasien yang tergantung pada kortikosteroid-kortikosteroid dan tidak mampu untuk memberhentikan mereka tanpa mengembangkan kekambuhan-kekambuhan.

Ketika azathioprine dan 6-MP ditambahkan pada kortikosteroid-kortikosteroid dalam perawatan pasien-pasein radang borok usus besar yang tidak merespon pada kortikosteroid-kortikosteroid sendiri saja, mungkin ada suatu perbaikan respon atau dosis-dosis yang lebih kecil dan kursus-kursus dari kortikosteroid-kortikosteroid yang lebih singkat mungkin mampu digunakan. Beberapa pasien-pasien dapat memberhentikan kortikosteroid-kortikosteroid pada keseluruhannya tanpa mengalami kekambuhan-kekambuhan. Kemampuan mengurangi kebutuhan kortikosteroid telah memberikan 6-MP dan azathioprine reputasi mereka sebagai obat-obat "penghemat steroid".

Pada pasien-pasien radang borok usus besar dengan penyakit yang parah yang menderita kekambuhan-kekambuhan yang seringkali, 5-ASA mungkin tidak mencukupi, dan azathioprine dan 6-MP yang lebih keras akan diperlukan untuk mempertahankan remisi-remisi. Pada dosis-dosis yang digunakan untuk merawat radang borok usus besar dan penyakit Crohn, efek-efek sampingan jangka panjang dari azathioprine dan 6-MP adalah kurang serius daripada kortikosteroid-kortikosteroid oral jangka panjang atau kursus-kursus kortikosteroid-kortikosteroid oral yang diulang.

Efek-Efek Sampingan dari 6-MP dan Azathioprine

Efek-efek sampingan dari 6-MP dan azathioprine termasuk sifat mudah kena serang infeksi, peradangan hati (hepatitis) dan pankreas (pancreatitis), dan keracunan sumsum tulang (gangguan terhadap pembentukan sel-sel yang bersirkulasi dalam darah) yang meningkat.

Tujuan dari perawatan dengan 6-MP dan azathioprine adalah untuk melemahkan sistim imun tubuh dalam rangka mengurangi intensitas peradangan pada usus-usus; bagaimanapun, melemahkan sistimimun meningkatkan sifat mudah kena serang infeksi-infeksi. Contohnya, pada suatu kelompok dari pasien-pasien dengan penyakit Crohn yang parah yang tidak merespon pada dosis-dosis standar dari azathioprine, menaikkan dosis azathioprine membantu mengontrol penyakit, namun dua pasien mengembangkan infeksi cytomegalovirus (CMV). (CMV biasanya menulari individu-individu dengan sistim imun yang dilemahkan seperti pasien-pasien dengan AIDS atau kanker, terutama jika mereka sedang menerima kemoterapi, yang melemahkan lebih jauh sistim imunnya.

Peradangan dari hati (hepatitis) dan pankreas (pancreatitis) yang disebabkan oleh Azathioprine dan 6-MP adalah jarang. Pancreatitis secara khas menyebabkan sakit perut yang parah dan kadangkala muntah. Pancreatitis yang disebabkan oleh 6-MP atau azathioprine terjadi pada 3%-5% dari pasien-pasien, biasanya selama beberapa minggu-minggu pertama perawatan. Pasien-pasien yang mengembangkan pancreatitis harus tidak menerima lagi satu pun dari kedua obat-obat ini.

Azathioprine dan 6-MP juga menindas/menekan sumsum tulanga. Sumsum tulang adalah dimana sel-sel darah merah, sel-sel darah putih, dan platelet-platelet dibuat. Sebenarnya, suatu pengurangan yang sedikit pada jumlah sel darah putih selama perawatan diinginkan karena ia mengindikasikan bahwa dosis dari 6-MP atau azathioprine adalah cukup tinggi untuk mempunyai suatu efek; bagaimanapun, jumlah-jumlah darah merah atau darah putih yang rendahnya berlebihan mengindikasikan keracunan sumsum tulang. Oleh karenanya, pasien-pasien pada 6-MP dan azathioprine harus mempunyai perhitungan-perhitungan darah secara periodik (biasanya setiap dua minggu pada awalnya dan kemudian setiap 3 bulan selama pemeliharaan) untuk memonitor efek dari obat-obat pada sumsum tulang mereka.

6-MP dapat mengurangi jumlah sperma pada pria-pria. Ketika pasangan-pasangan dari pasien-pasien pria pada 6-MP mengandung (hamil), ada suatu kejadian yang lebih tinggi dari keguguran dan perdarahan vagina. Juga ada kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan pernapasan pada bayi-bayi yang baru lahir. Oleh karenanya, direkomendasikan bahwa kapan saja jika memungkinkan, pasien-pasien pria harus menghentikan 6-MP dan azathioprine untuk tiga bulan sebelum penghamilan/pembuahan.

Pasien-pasien pada azathioprine dosis tinggi jangka panjang untuk mencegah penolakkan ginjal setelah pencangkokan ginjal mempunyai suatu peningkatan risiko mengembangkan lymphoma, suatu penyakit yang membahayakan dari sel-sel limpatik. Pada waktu ini tidak ada bukti bahwa penggunaan jangka panjang dari azathioprine dan 6-MP pada dosis-dosis rendah yang digunakan pada IBD meningkatkan risiko lymphoma, leukemia atau penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Hal-Hal lain dalam Penggunaan 6-MP

Satu persoalan dengan 6-MP dan azathioprine adalah permulaan aksi mereka yang lambat. Secara khas, manfaat sepenuhnya dari obat-obat ini tidak ter-realisasi untuk tiga bulan atau lebih. Selama waktu ini, kortikosteroid-kortikosteroid seringkali harus dipertahankan/dipelihara pada tingkat-tingkat yang tinggi untuk mengontrol peradangan.

Penyebab dari permulaan aksi yang lambat ini sebagian disebabkan caranya dokter-dokter meresepkan 6-MP. Secara khas, 6-MP dimulai pada suatu dosis dari 50 mg per hari. Perhitungan darah kemudian diperiksa dua minggu kemudian. Jika jumlah sel darah putih (terutama jumlah lymphocyte) tidak berkurang, dosis ditingkatkan. Pendekatan yang hati-hati dan langkah demi langkah membantu mencegah keracunan sumsum tulang dan hati yang berat, namun juga menunda manfaat dari obat.

Studi-studi telah menunjukkan bahwa memberikan dosis-dosis yang lebih tinggi 6-MP pada awal dapat mempercepat manfaat dari 6-MP tanpa keracunan yangmeningkat pada kebanyakan pasien-pasien , namun beberapa pasien-pasien mengembangkan keracunan sumsum tulang yang berat. Oleh karenanya, dosis dari 6-MP harus dibuat per individu. Ilmuwan-ilomuwan sekarang percaya bahwa suatu sifat mudah kena serangan dari keracunan 6-MP dari seorang individu adalah diturunkan secara genetik. Tes-res darah dapat dilaksanakan untuk mengidentifikasi individu-individu yang dengan sifat mudah kena serangan keracunan 6-MP yang meningkat. Pada individu-individu ini, dosis-dosis awal yang lebih rendah dapat digunakan. Tes-tes darah dapat juga dilaksanakan untuk mengukur tingkat-tingkat dari produk-produk sampingan tertentu dari 6-MP. Tingkat-tingkat dari produk-produk sampingan ini dalam darah mebantu dokter-dokter lebih cepat menentukan apakah dosis dari 6-MP adalah benar untuk pasiennya.

Berapa Lama Pasien-Pasien Meneruskan Pada 6-MP ?

Pasien-pasien telah dipertahankan pada 6-MP atau azathioprine bertahun-tahun tanpa efek-efek sampingan jangka panjang apa saja yang penting. Dokter-dokter mereka , bagaimanapun, harus secara ketat memonitor pasien-pasein mereka pada 6-MP jangka panjang. Ada data yang menyarankan bahwa pasien-pasien pada pemeliharaan jangka panjang dengan 6-MP atau azathioprine berjalan lebih baik daripada mereka yang menghentikan obat-obat ini. Mereka yang menghentikan 6-MP atau azathioprine lebih mungkin mengalami kekambuhan, lebih mungkin memerlukan kortikosteroid-kortikosteroid atau menjalankan operasi.

Methotrexate

Methotrexate (Rheumatrex, Trexall) adalah suatu obat imunomodulator dan anti peradangan. Methotrexate telah digunakan bertahun-tahun dalam perawatan rheumatoid arthritis dan psoriasis yang berat. Ia telah bermanfaat dalam merawat pasien-pasien dengan penyakit Crohn yang sedang sampai berat yang tidak merespon pada 6-MP dan azathioprine atau adalah tidak dapat mentolerir kedua obat-obat ini. Methotrexate juga mungkin efektif pada pasien-pasien dengan radang borok usus besar yang sedang sampai berat yang tidak merespon pada kortikosteroid-kortikosteroid atau 6-MP dan azathioprine. Ia dapat diberikan secara oral atau dengan suntikan setiap minggu dibawah kulit atau kedalam otot-otot. Penyerapan lebih dapat dipercaya dengan suntikan-suntikan.

Satu komplikasi utama dari methotrexate adalah pengembangan sirosis hati ketika obat diberikan melalui suatu periode waktu yang panjang (bertahun-tahun). Risiko kerusakan hati adalah lebih tinggi pada pasien-pasien yang juga menyalah gunakan alkohol atau mempunyai kegemukan yang tidak wajar (parah). Umumnya, biopsi-biopsi hati secara periodik direkomendasikan untuk seorang pasien yang telah menerima suatu dosis methotreate dari 1.5 gram atau lebih tinggi secara kumulatif (total).

Efek-efek sampingan lain dari methotrexate termasuk jumlah-jumlah sel darah putih yang rendah dan peradangan paru-paru.

Methotrexate harus tidak digunakan pada kehamilan.

Cyclosporine

Cyclosporine (Sandimmune) adalah suatu penekan imun (immunosuppressant) yang kuat yang digunakan untuk mencegah penolakkan organ setelah operasi pencangkokan, contohnya dari hati. Ia juga telah digunakan untuk merawat pasien-pasien dengan radang borok usus besar dan penyakit Crohn yang parah. Karena persetujuan dari infliximab (Remicade) untuk merawat penyakit Crohn yang parah, cyclosporine mungkin akan digunakan terutama pada radang borok usus besar yang parah. Cyclosporine bermanfaat pada radang borok usus besar yang fulminant dan pada pasien-pasien yang sakit parah yang tidak merespon pada kortikosteroid-kortikosteroid sistemik. Dimasukkan secara intra vena, cyclosporine dapat menjadi sangat efektif dalam mengontrol secara cepat kolitis yang parah dan menghindari atau menunda operasi.

Cyclosporine juga tersedia sebagai suatu obat oral, namun angka kekambuhan dengan cyclosporine oral adalah tinggi. Oleh karenanya, cyclosporine tampaknya paling bermanfaat ketika dimasukkan secara intra vena dalam situasi-situasi akut.

Efek-efek sampingan dari cyclosporine termasuk hipertensi, gangguan fungsi ginjal, dan perasaan-perasaan kesemutan pada kaki-kaki dan tangan-tangan. Efek-efek sampingan yang lebih serius termasuk anaphylactic shock dan serangan-serangan (jantung).

Infliximab (Remicade)

Infliximab (Remicade) adalah suatu antibodi yang melekat pada suatu protein yang disebut tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha). TNF-alpha adalah satu dari protein-protein yang dihasilkan oleh sel-sel imun selama pengaktifan sistim imun. TNF-alpha, pada gilirannya, menstimulasi sel-sel lain dari sistim imun untuk menghasilkan dan melepaskan protein-protein lain yang memajukan peradangan. Pada penyakit Crohn dan radang borok usus besar, ada produksi yang terus menerus dari TNF-alpha sebagai bagian dari pengaktifan imun. Infliximab, dengan melekatkan pada TNF-alpha, menghalangi aktivitasnya dan dengan melakukannya demikian mengurangi peradangan.

Infliximab, suatu antibodi pada TNF-alpha, dihasilkan oleh sistim imun tikus setelah tikusnya disuntikkan dengan TNF-alpha manusia. Antibodi tikus kemudian dimodifikasi untuk membuatnya tampak lebih seperti suatu antibodi manusia, dan antibodi yang dimodifikasi ini adalah infliximab. Modifikasi-modifikasi macam ini adalah perlu untuk mengurangi kemungkinan reaksi-reaksi alergi ketika antibodi dimasukkan ke manusia-manusia. Infliximab diberikan dengan infusi secara intra vena melalui dua jam. Pasien-pasien dimonitor sepanjang infusi untuk reaksi-reaksi yang kurang baik.

Infliximab telah digunakan secara efektif bertahun-tahun untuk perawatan penyakit Crohn yang sedang sampai berat yang tidak merespon pada kortikosteroid-kortikosteroid atau immuno-modulators. Pada pasien-pasien penyakit Crohn, 65% mengalami perbaikan penyakitnya setelah satu infusi dari infliximab. Beberapa pasien-pasien mencatat perbaikan gejala-gejalanya dalam beberapa hari dari infusi. Kebanyakan pasien-pasien mengalami perbaikan dalam dua minggu. Pada pasien-pasien yang merespon pada infliximab, perbaikan-perbaikan dalam gejala-gejalanya dapat menjadi dramatik. Lebih dari itu, dapat terjadi kesembuhan yang cepatnya menakjubkan dari borok-borok dan peradangan pada usus-usus setelah hanya satu infusi.

Bertahun-tahun dokter-dokter ragu-ragu apakah infliximab dapat digunakan untuk merawat radang borok usus besar. Hanya akhir-akhir ini, dokter-dokter telah memulai menggunakan infliximab sebagai perawatan untuk radang borok usus besar. Pada satu studi kontrol plasebo yang diacak yang melibatkan lebih dari 700 pasien-pasien dengan radang borok usus besar yang sedang sampai berat, infliximab (5mg atau 10 mg per kilogram berat badan) yang diberikan secara intra vena adalah lebih efektif daripada plasebo dalam menyebabkan dan memelihara remisi.

Efek-Efek Sampingan dari Infliximab

Infliximab, umumnya, adalah ditolerir dengan baik. Selama ini jarang ada laporan-laporan dari efek-efek sampingan selama infusi-infusi, termasuk sakit dada, sesak napas, dan mual. Efek-efek ini biasanya hilang secara spontan dalam hitungan menit jika infusi dihentikan. Efek-efek sampingan lainnya yang umumnya dilaporkan termasuk sakit kepala dan infeksi saluran pernapasan atas.

Infliximab, seperti immuno-modulators, meningkatkan risiko infeksi. Satu kasus dari kolitis salmonella dan beberapa kasus-kasus dari pneumonia telah dilaporkan dengan penggunaan infliximab. Juga telah ada kasus-kaus tuberculosis (TB) yang dilaporkan setelah penggunaan infliximab.

Karena infliximab sebagian adalah suatu protein tikus, ia mungkin menyebabkan suatu reaksi imun ketika diberikan pada manusia-manusia, terutama dengan infusi-infusi yang berulang-ulang. Sebagai tambahan pada efek-efek sampingan yang terjadi ketika infusi sedang diberikan, pasien-pasien juga mungkin mengembangkan suatu "reaksi alergi yang tertunda" yang terjadi 7-10 hari setelah menerima infliximab. Tipe reaksi ini mungkin menyebabkan gejala-gejala seperti influensa dengan demam, sakit dan bengkak sendi, dan suatu perburukan gejala-gejala dari penyakit Crohn. Itu dapat menjadi serius, dan jika itu terjadi, seorang dokter harus dihubungi. Secara bertentangan, pasien-pasien yang seringkali mendapat infusi-infusi Remicade adalah lebih tidak mungkin mengembangkan tipe dari reaksi tertunda ini dibanding pada pasien-pasien yang menerima infusi-infusi yang dipisahkan oleh interval-interval yang panjang (6-12 bulan). Meskipun Remicade adalah satu-satunya yang disetujui FDA untuk suatu infusi tunggal pada saat ini, pasien-pasien harus sadar bahwa mereka kemungkinan memerlukan infusi-infusi yang berulang sekali terapi Remicade telah dimulai.

Ada beberapa laporan-laporan dari memburuknya penyakit jantung pada pasien-pasien yang telah menerima Remicade. Mekanisme yang tepat dan peran dari infliximab dalam pengembangan efek sampingan ini tidak jelas. Sebagai suatu tindakan pencegahan, individu-individu dengan penyakit jantung harus menginformasikan dokter mereka tentang kondisinya ini sebelum menerima infliximab.

Jarang ada laporan-laporan dari kerusakkan syaraf seperti optic neuritis (peradangan syaraf mata) dan motor neuropathy.

Tindakan-Tindakan Pencegahan dengan Infliximab

Infliximab dapat membuat lebih buruk dan menyebabkan penyebaran dari suatu infeksi yang telah ada. Oleh karenanya, ia harus tidak diberikan pada pasien-pasien dengan pneumonia, infeksi saluran kencing atau bisul-bisul/abses-abses (tempat terkumpulnya nanah).

Sekarang direkomendasikan bahwa pasien-pasien diperiksa untuk TB sebelum menerima infliximab. Pasien-pasien yang sebelumnya mempunyai TB harus menginformasikan dokter mereka tentang ini sebelum mereka menerima infliximab.

Infliximab dapat menyebabkan penyebaran sel-sel kanker, oleh karenanya, ia harus tidak diberikan pada pasien-pasien dengan kanker.

Efek-efek Infliximab pada fetus (janin) tidak diketahui.

Karena infliximab sebagian adalah protein tikus, beberapa pasien-pasien dapat mengembangkan antibodi-antibodi terhadap infliximab dengan infusi-infusi yang berulang-ulang. Pengembangan dari antibodi-antibodi ini dapat mengurangi keefektifan dari obat. Kesempatan-kesempatan mengembangkan antibodi-antibodi ini dapat dikurangi dengan penggunaan yang serentak dari 6-MP dan kortikosteroid-kortikosteroid.

Dimana infliximab mewakili suatu kelompok baru obat-obatan yang menggairahkan dalam perlawanan terhadap penyakit Crohn dan radang borok usus besar, kehati-hatian diberikan karena efek-efek sampingan yang berpotensi serius. Dokter-dokter menggunakan infliximab pada radang barok usus besar yang sedang sampai berat yang tidak merespon pada obat-obat lain.



Alat Steril Botol Susu Bayi