(Mesin Pencari Google)





Atrial Fibrillation



Merubah Atrial Fibrillation Ke Irama Normal

Merubah AF ke irama yang normal dapat dipenuhi dengan obat-obat (chemical cardioversion) atau dengan kejutan-kejutan elektrik (electrical cardioversion). Dokter-dokter biasanya merekomendasi bahwa semua pasien-pasien dengan AF yang kronis terus menerus menjalani paling sedikit satu percobaan (usaha) pada cardioversion, chemical atau electrical. Cardioversion yang sukses dapat meredakan gejala-gejala, memperbaiki toleransi latihan, memperbaiki kwalitas hidup, dan menurunkan risiko dari stroke-stroke. Dokter-dokter biasanya mencoba pertama cardioversion medis, dan jika obat-obat gagal, kemudian mencoba electrical cardioversion.

Pasien-pasien yang lebih mungkin mencapai dan mempertahankan irama jantung yang normal dengan chemical atau electrical cardioversion termasuk:

  • Pasien-pasien yang lebih muda dari umur 65 tahun
  • Pasien-pasien yang telah mempunyai AF untuk waktu yang singkat (kurang dari 12 bulan)
  • Pasien-pasien dengan ukuran normal dari atria dan ventricles
  • Pasien-pasien yang sedang mempunyai episode pertama mereka dari AF

Cardioversion dengan obat-obat. Sebelum meresepkan obat-obat untuk cardioversion, dokter biasanya mengontrol angka dari kontraksi-kontraksi ventricle dan mengencerkan darah, biasanya dengan warfarin.

1) Obat-obat yang tersedia. Obat-obat yang digunakan pada cardioversion biasanya bekerja dengan menghalangi kanal-kanal pada dinding-dinding dari sel-sel melaluinya ion-ion berjalan (sodium channels, potassium channels, beta adrenergic channels, dan calcium channels). Beberapa contoh-contoh dari obat-obat ini termasuk:

  • quinidine (Quinaglute)
  • procainamide (Procan SR)
  • disopyramide (Norpace)
  • flecainide (Tambocor)
  • sotalol (Betapace)
  • flecainide (Tambocor)
  • amiodarone (Cordarone)

Obat-obat ini mampu merubah AF ke irama normal pada kira-kira 50% dari pasien-pasien. Mereka seringkali digunakan jangka panjang untuk mempertahankan irama yang normal dan mencegah kekambuhan-kekambuhan dari AF.

2) Kerugian-kerugian dari menggunakan obat-obat. Obat-obat yang digunakan untuk merubah AF membawa risiko kecil yang menyebabkan irama-irama jantung abnormal lainnya - mereka dikatakan adalah pro-arrhythmic- terutama pada pasien-pasien dengan penyakit-penyakit dari otot jantung atau arteri-arteri koroner. Irama-irama jantung abnormal ini dapat menjadi lebih mengancam nyawa daripada AF. Oleh karenanya, perawatan dengan obat-obat ini seringkali dimulai di rumah sakit sementara irama pasien secara terus menerus dimonitor untuk 24-72 jam.

Obat-obat ini mungkin tidak efektif dalam jangka panjang. Banyak pasien-pasien akhirnya mengembangkan kekambuhan dari AF meskipun dengan obat-obat.

Obat-obat yang digunakan dalam merawat atrial fibrillation seringkali mempunyai efek-efek sampingan yang penting. Banyak pasien-pasien menghentikan mereka karena mereka tidak dapat mentolerir efek-efek sampingan ini. Misalnya, amiodarone secara umum digunakan dalam merawat AF karena ia adalah kurang pro-arrhythmic dan telah ditunjukan mempertahankan irama yang normal pada sampai dengan 75% dari pasien-pasien. Bagaimanapun, amiodarone seringkali menyebabkan efek-efek sampingan dan interaksi-interaksi obat. Kira-kira 7 dari setiap 10 pasien-pasien yang mengambil amiodarone mengalami beberapa tipe dari efek sampinan, dan antara 1 dalam 5 dan 1 dalam 20 mengalami efek-efek sampingan yang cukup parah dimana amiodarone harus dihentikan. Amiodarone dapat berinteraksi dengan obat-obat lain seperti tricyclic antidepressants, misalnya, amitriptyline (Elavil) atau phenothiazine antipsychotics, misalnya, chlorpromazine (Thorazine) dan menyebabkan irama-irama jantung yang abnormal. Amiodarone berinteraksi dengan warfarin dan meningkatkan risiko perdarahan. Interaksi ini dengan warfarin dapat terjadi sedini 4-6 hari setelah permulaan dari kedua obat-obat atau dapat tertunda beberapa minggu. Jadi, dokter-dokter yang meresepkan kedua-duanya warfarin dan amiodarone akan menyesuaikan dosis dari warfarin untuk menghindari pengenceran darah yang berlebihan. Amiodarone juga dapat menyebabkan gangguan-gangguan tiroid pada fetus jika dimasukan secara oral ke ibu selama kehamilan. Amiodarone juga mungkin mempengaruhi fungsi tiroid pada kaum dewasa. Efek-efek sampingan yang paling parah dari amiodarone adalah keracunan paru yang berpotensi dapat menjadi fatal. Karena keracunan paru ini, pasien-pasien harus melaporkan segala gejala-gejala dari batuk, demam, atau pernapasan yang menyakitkan pada dokter-dokter mereka.

Electrical cardioversion. Electrical cardioversion adalah prosedur yang digunakan oleh dokter-dokter untuk merubah irama jantung yang abnormal (seperti AF) ke irama yang normal (sinus rhythm). Electrical cardioversion memerlukan pemasukan dari kejutan elektrik melalui dada. Kejutan elektrik menghentikan aktivitas elektrik yang abnormal dari jantung untuk saat yang singkat dan mengizinkan irama jantung yang normal mengambil alih. Meskipun electrical cardioversion dapat digunakan untuk merawat hampir segala denyut jantung yang cepatnya abnormal (seperti atrial flutter dan ventricular tachycardia), ia digunakan paling sering untuk merubah AF ke irama normal.

Warfarin biasanya diberikan untuk 3 sampai 4 minggu sebelum cardioversion untuk mengecilkan risiko stroke yang dapat terjadi selama atau segera setelah cardioversion. Warfarin diteruskan untuk empat sampai enam minggu setelah cardioversion yang sukses. Untuk beberapa pasien-pasien yang memerlukan electrical cardioversion yang mendesak, warfarin mungkin tidak bekerja cukup cepat untuk mengencerkan darah. Oleh karenanya, pasien-pasien ini mungkin diberikan heparin sebelum electrical cardioversion. Heparin adalah pengencer darah yang bekerja lebih cepat daripada warfarin, namun ia harus dimasukan sebagai infusi intravena yang terus menerus atau sebagai suntikan-suntikan dibawah kulit. Setelah cardioversion yang sukses, pasien-pasien ini dapat dipindahkan dari heparin ke warfarin.

  • 1) Metode dari cardioversion. Electrical cardioversions (urgent dan elective) biasanya dilakukan di rumah sakit. Untuk elective (non-urgent) electrical cardioversion, pasien-pasien biasanya tiba di rumah sakit tanpa makan di pagi hari. Obat-obat yang diperlukan dapat diminum dengan minuman air yang sedikit-sedikit. Pasien-pasien diberikan suplemen oksigen via kateter-kateter hidung, dan infusi cairan intravena dimulai. Elektrode-elektrode (pads) ditempatkan pada kulit diatas dada untuk secara terus menerus memonitor irama jantung. Paddles kemudian ditempatkan diatas dada dan punggung bagian atas. Pasien-pasien dibius secara intravena dengan obat-obat. Ini diikuti dengan kejutan elektrik yang kuat melalui paddles. Kejutan merubah AF ke irama normal. Setelah cardioversion, pasien-pasien diamati untuk beberapa jam atau semalaman untuk memastikan bahwa irama jantung normal mereka stabil.
  • 2) Keefektifan dari electrical cardioversion. Electrical cardioversion lebih efektif daripada obat-obat sendirian dalam mengakhiri AF dan memugar kembali irama jantung yang normal. Electrical cardioversion dengan sukses memugar kembali irama jantung yang normal pada lebih dari 95% dari pasien-pasien.
  • 3) Keterbatasan-keterbatasan dari electrical cardioversion. Sementara electrical cardioversion adalah efektif dalam merubah AF ke irama jantung yang normal, irama normal mungkin tidak terus menerus lama. Kira-kira 75% dari pasien-pasien yang dirawat dengan sukses dengan electrical cardioversion mengalami kekambuhan AF dalam 12-24 bulan. Pasien-pasien yang lebih tua dengan atria dan ventricles yang membesar yang telah mempunyai AF untuk waktu yang lama adalah terutama cenderung pada kekambuhan-kekambuhan. Jadi, kebanyakan pasien-pasien yang menjalani cardioversion yang sukses ditempatkan pada obat-obat oral untuk encegah kekambuhan-kekambuhan dari AF.
  • 4) Risiko-risiko dari electrical cardioversion. Risiko-risiko dari electrical cardioversion termasuk stroke, serangan jantung, kulit-kulit yang terbakar, dan pada kejadian-kejadian yang jarang, kematian.
  • 5) Calon-calon untuk electrical cardioversion. Dokter-dokter biasanya merekomendasi bahwa semua pasien-pasien dengan AF yang kronis terus menerus menjalani paling sedikit satu usaha pada cardioversion. Cardioversion biasanya dicoba pertama dengan obat-obat. Jika obat-obat gagal, electrical cardioversion dapat dipertimbangkan. Adakalanya dokter mungkin memilih menggunakan electrical cardioversion pertama jika AF adalah berdurasi singkat (penimbulan dalam 48 jam) dan transesophageal echocardiography menunjukan tidak ada gumpalan-gumpalan darah dalam atria.
  • Electrical cardioversion dilakukan secara mendesak (pada basis darurat) pada pasien-pasien dengan gejala-gejala yang parah dan berpotensi mengancam nyawa yang disebabkan oleh AF. Contohnya, beberapa pasien-pasien dengan AF yang cepat dapat mengembangkan nyeri dada, sesak napas, dan kepeningan atau pingsan. (Nyeri dada pada pasien-pasien ini disebabkan oleh kekurangan pemasokan darah ke otot-otot jantung. Sesak napas mengindikasikan pemompaan darah yang tidak efektif oleh ventricles. Pingsan atau kepeningan biasanya disebabkan oleh tekanan darah yang rendahnya berbahaya).

    Rate control therapy. Studi-studi baru-baru ini telah menunjukan bahwa alternatif yang dapat diterima pada cardioversion (chemical atau electrical) adalah rate-control therapy. Pada rate-control therapy, dokter akan membiarkan pasien-pasien pada AF dengan syarat angka kontraksi-kontraksi ventricle mereka dibawah kontrol yang baik, hasil keluaran darah dari jantung cukup, dan darah mereka cukup diencerkan dengan warfarin untuk mencegah stroke-stroke. Angka denyut jantung pada pasien-pasien ini dapat dikontrol menggunakan obat-obat seperti beta-blockers, calcium channel blockers, atau digoxin atau AV node ablation dengan penanaman pacu jantung. Rate-control therapy digunakan untuk menyederhanakan terapi dan menghindari efek-efek sampingan dari obat-obat anti-arrhythmic (obat-obat yang digunakan untuk merawat dan mencegah AF).

    Melaui periode-periode pengamatan yang panjang, pasien-pasien yang dirawat dengan rate-control therapy mempunyai kelangsungan hidup dan kwalitas hidup yang serupa dibanding pada pasien-pasien yang menjalani electrical atau chemical cardioversions yang berulangkali.

    Calon-calon yang cocok untuk rate-control therapy termasuk:

    • Pasien-pasien yang telah mempunyai AF lebih dari satu tahun
    • Pasien-pasien dengan penyakit yang signifikan dari klep-klep jantung
    • Pasien-pasien dengan jantung-jantung yang membesar sebagai akibat dari gagal jantung atau cardiomyopathy (kelemahan otot jantung)
    • Pasien-pasien dengan efek-efek sampingan yang signifikan atau tidak dapat mentolerir obat-obat untuk AF


Alat Steril Botol Susu Bayi