(Mesin Pencari Google)





Atrial Fibrillation



Faktor-Faktor Risiko Untuk Mengembangkan Atrial Fibrillation

Ada banyak faktor-faktor risiko untuk mengembangkan atrial fibrillation. Faktor-faktor risiko ini adalah:

  • Umur yang bertambah (1% dari orang-orang diatas umur 60 tahu mempunyai atrial fibrillation)
  • Penyakit jantung koroner (termasuk serangan jantung)
  • Tekanan darah tinggi
  • Fungsi otot jantung yang abnormal (termasuk gagal jantung kongestif)
  • Penyakit dari klep mitral antara vnetricle kiri dan kanan
  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hyperthyroidism) atau overdosis dari obat tiroid
  • Jumlah-jumlah oksigen yang rendah dalam darah, misalnya, seperti terjadi dengan penyakit-penyakit paru seperti emphysema atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD)
  • Peradangan dari lapisan yang mengelilingi jantung (pericarditis)
  • Gumpalan-gumpalan darah dalam paru (pulmonary embolism)
  • Penyakit-penyakit paru kronis (emphysema, asma, COPD)
  • Pemasukan alkohol yang berlebihan (alkoholisme)
  • Penggunaan obat stimulan seperti cocaine atau decongestants
  • Operasi jantung atau paru baru-baru ini
  • Struktur jantung yang abnormal sejak lahir (penyakit jantung congenital)
  • Kira-kira 1 dalam 10,000 kaum dewasa muda yang biasanya sehat mempunyai AF tanpa segala penyebab yang jelas atau penyakit jantung yang mendasarinya. AF pada individu-individu ini biasanya adalah sebentar-sebentar, namun dapat menjadi kronis pada 25%. Kondisi ini dirujuk sebagai lone AF. Stres, alkohol, tembakau, atau penggunaan dari stimulan-stimulan mungkin memainkan peran dalam menyebabkan lone AF.

    Mendiagnosa Atrial Fibrillation

    AF dapat menjadi kronis dan terus menerus, atau singkat dan sebentar-sebentar (paroxysmal). Paroxysmal AF merujuk pada episode-episode yang sebentar-sebentar dari AF yang berlangsung, misalnya, bermenit-menit sampai berjam-jam. Angka denyut jantung berbalik ke normal antara episode-episode. Pada AF yang kronis dan terus menerus, atria berfibrilasi pada semua waktu. AF yang kronis dan terus menerus tidak sulit untuk didiagnosa. Dokter-dokter dapat mendengar denyut-denyut jantung yang cepat dan tidak teratur mengunakan stethoscope. Denyut-denyut jantung yang abnormal juga dapat dirasakan dengan menghitung nadi pasien.

    EKG (electrocardiogram)

    Electrocardiogram (EKG) adalah perekaman yang singkat dari impuls-impuls elektrik jantung. Jejak-jejak EKG yang tidak teratur dari AF adalah mudah untuk dikenali asalkan AF terjadi selama EKG.

    Holter monitor

    Jika episode-episode dari AF terjadi secara sebentar-sebentar, EKG standar yang dilakukan pada saat kunjungan ke praktek dokter mungkin tidak menunjukan AF. Oleh karenanya, Holter monitor, perekaman yang terus menerus dari irama jantung selama 24 jam, seringkali digunakan untuk mendiagnosa episode-episode AF yang sebentar-sebentar.

    Perekam kejadian yang diaktifkan oleh pasien

    Jika episode-episode AF adalah jarang, rekaman Holter 24 jam mungkin tidak menangkap episode-episode sporadis (sekali-sekali) ini. Pada situasi ini, pasien dapat memakai perekan kejadian yang diaktifkan pasien untuk 1 sampai 4 minggu. Pasien menekan tombol untuk memulai perekaman ketika ia merasakan penimbulan dari denyut-denyut jantung yang tidak teratur atau gejala-gejala yang mungkin disebabkan oleh AF. Dokter kemudian menganalisa rekaman-rekaman pada waktu kemudian.

    Echocardiography

    Echocardiography menggunakan gelombang-gelombang ultrasound untuk menghasilkan gambar-gambar dari kamar-kamar jantung dan klep-klep jantung dan lapisan sekitar jantung (pericardium). Kondisi-kondisi yang mungkin menyertai AF seperti mitral valve prolapse, penyakit-penyakit rheumatic klep, dan pericarditis (peradangan dari "kantong" yang mengelilingi jantung) dapat dideteksi dengan echocardiography. Echocardiography juga bermanfaat dalam mengukur ukuran dari kamar-kamar atria. Ukuran atria adalah faktor yang penting dalam menentukan bagaimana pasien merespon pada perawatan untuk AF. Misalnya, adalah lebih sulit untuk mencapai dan mempertahankan irama jantung yang normal pada pasien-pasien dengan atria yang membesar.

    Transesophageal echocardiography (TEE)

    Transesophageal echocardiography (TEE) adalah teknik echocardiographic khusus yang melibatkan pengambilan gambar-gambar dari atria menggunakan gelombang suara. Probe khusus yang menghasilkan gelombang-gelombang suara ditempatkan pada esophagus (saluran makanan yang menghubungkan mulut ke lambung). Probe dilokasikan pada ujung dari tabung panjang yang lentur yang dimasukan melalui mulut kedalam esophagus. Teknik ini membawa probe sangat dekat pada jantung (yang terletak tepat didepan esophagus). Gelombang-gelombag suara yang dihasilkan oleh probe dipantulkan dari struktur-struktur didalam jantung, dan gelombang-gelombang suara yang dipantulkan digunakan untuk membentuk gambar dari jantung. TEE adalah sangat akurat untuk mendeteksi gumpalan-gumpalan darah dalam atria serta untuk mengukur ukuran dari atria.

    Seperti sebelumnya didiskusikan, darah mungkin menggumpal dalam atria selama AF, dan potongan-potongan dari gumpalan mungkin terlepas dan berjalan ke otak, menyebabkan stroke. Dokter-dokter terutama prihatin tentang gumpalan-gumpalan darah yang terlepas selama atau setelah cardioversion (konversi dari AF balik kedalam irama jantung yang normal dengan obat-obat atau kejutan-kejutan elektrik). Lebih dari itu, dokter-dokter percaya bahwa resumsi (permulaan lagi) dari kontraksi-kontraksi atrial setelah cardioversion yang sukses meningkatkan kemungkinan bahwa potongan-potongan dari gumpalan akan terlepas. Untuk sebab-sebab ini, antikoagulasi (pengenceran) dari darah biasanya dilakukan sebelum cardioversion. Ini mencegah terbentuknya gumpalan baru sementara gumpalan yang lama larut atau mengeras sehingga potongan-potongan gumpalan tidak dapat pecah (terlepas). Jika tidak ada gumpalan-gumpalan terdeteksi dalam atria dengan TEE, risiko stroke setelah cardioversion dipercaya adalah lebih rendah. Jadi, beberapa dokter-dokter menggunakan TEE untuk menentukan risiko stroke setelah cardioversion. Studi-studi sedang dibuat untuk menentukan apakah pasien-pasien dengan TEE normal (tidak ada gumpalan-gumpalan darah) perlu diencerkan darah mereka sebelum cardioversion.

    Tes-Tes lain

    Tekanan darah tinggi dan tanda-tanda dari gagal jantung dapat dipastikan selama pemeriksaan fisik pasien. Tes-tes darah dilakukan untuk mendeteksi kelainan-kelainan dalam tingkat-tingkat oksigen dan karbon dioksida darah, elektrolit-elektrolit, dan tingkat-tingkat hormon tiroid. X-rays dada mengungkap pembesaran jantung, gagal jantung, dan penyakit-penyakit lain dari paru. Pengujian latihan treadmill (perekaman yang terus menerus dari EKG selama latihan) adalah studi penyaringan (screening) yang berguna untuk mendeteksi penyakit jantung koroner yang parah.



Alat Steril Botol Susu Bayi